Karakteristik Perusahaan
Aktivitas utama perusahaan adalah menyimpan kemudian menjual barang tersebut tanpa melalui pproses perubahan bentuk, maka berdasarkan aktivitasnya, perusahaan dagang dapat diartikan sebagai perusahaan yang kegiatannya membeli barang dagangan dengan tujuan untuk dijual kembali tanpa adanya proses perubahan bentuk dari barang yang dibelinya.
Siklus Akuntansi Perusahaan Dagang
Akuntansi Untuk Penjualan Barang Dagangan
Agar suatu perusahaan dapat beroperasi dengan menguntungkan,maka harga jual barang harus lebih tinggi dari harga belinya. Komponen harga jual yang menguntungkan:
1) Harga pokok barang yang dijual;
2) Biaya operasi perusahaan (spt : biaya sewa, gaji pegawai, biaya asuransi, dan lain-lain); dan
3) Laba bersih yang diinginkan perusahaan
Transaksi penjualan barang dagangan akan berkaitan dengan beberapa istilah yakni: 1) Harga Pokok Penjualan; 2) Potongan Penjualan; 3) Retur Penjualan dan Pengurangan Harga; dan 4) Beban Angkut Penjualan.
Penjualan barang dagangan juga dicatat dengan mendebet rekening kas atau piutang dagang dan mengkredit rekening pendapatan. Nama rekening pendapatan yang biasanya digunakan untuk mencatat transaksi penjualan barang dagangan adalah penjualan. Penjualan barang dagangan dapat dilakukan secara tunai atau dapat dilakukan secara kredit.
· Penjualan Tunai
Penjualan tunai biasanya dicatat pada Register Kas dan pada akhir hari kerja dijumlah. Penjualan tunai seperti ini dapat dicatat sebagai berikut :
Kas Rp 12.000,00
Penjualan Rp 12.000,00
(untuk mencatat transaksi penjualan tunai)
Penjualan kepada pelanggan yang membayar dengan kartu kredit bank misalkan (Master Card, Visa Card) biasanya dianggap sebagai penjualan tunai. Kartu kredit yang diterima oleh sipenjual disetor ke bank bersama dengan diterima uang kontan dan cek yang diterima dari pelanggan. Secara berkala bank membebankan ongkos jasa pengurusan penjualan dengan kartu kredit tersebut. Ongkos jasa ini didebet ke perkiraan beban.
· Penjualan Kredit
Suatu perusahaan sering juga menjual barang dagangan secara kredit yaitu bilamana pembayaran baru diterima bebarapa waktu kemudian. Penjualan semacam ini dibukukan debet pada rekening Piutang dagang dan kredit rekening penjualan, jurnalnya adalah :
Piutang Dagang Rp 12.000,00
Penjualan Rp 12.000,00
(Untuk mencatat transaksi penjualan kredit)
Rekening penjulan hanya digunakan untuk mencatat penjualan barang dagangan. Apabila sebuah perusahaan dagangan menjual peralatan kantor (bukan barang dagangan), maka yang dikredit adalah rekening Peralatan Kantor, bukan rekening Penjualan.
Penjualan dengan kartu kredit yang bukan dikeluarkan oleh bank misalnya American Express umumnya harus dilaporkan secara berkala kepada perusahaan yang mengelolah kartu kredit tersebut sebelum dapat dicairkan menjadi uang tunai.Penjualan seperti ini menimbulkan piutang pada perusahaan pengelolah kartu kredit tersebut. Pengelolah kartu kredit akan memungut ongkos jasa pengurusan sebelum mengirimkan uang tunai pencairan kartu kredit tersebut. Misalkan penjualan dengan menggunakan kartu kredit bukan bank Rp 5.000.000 dan dilaporkan kepada perusahaan pengelolah kartu kredit pada tanggal 10 Januari. Pada Tanggal 15 Januari perusahaan pengelolah kartu kredit memotong ongkos sebesar Rp 125.000 dan mengirim uang sebesar Rp 4.875.000. Transaksi tersebut dapat dicatat :
10 Januari Piutang Dagang Rp 5.000.000
Penjualan Rp 5.000.000
( Penjualan dgn menggunakan American Express)
15 Janauri Kas Rp 4.875.000
Beban Penagihan Kartu Kredit Rp 125.000
Piutang dagang Rp 5.000.000
(Penerimaan kas dari American Express untuk penjualan yang dilaporkan tanggal 10 Januari)
Retur dan Potongan Penjualan
Retur adalah diterimanya kembali barang yang sudah dijual dari si pembeli karena rusak dalam pengiriman. Akibat adanya retur ini, maka si penjual akan mengurangi harga dari total barang yang dijualnya. Bila dilihat dari sisi pembeli, maka ini dinamakan retur pembelian.
Barang dagangan yang telah terjual mungkin saja dikembalikan oleh pelanggan (retur penjualan) atau karena barangnya cacat atau karena alasan lain sehingga pembeli tidak puas. Kepada pelanggan diberikan potongan dari harga semula barang yang dijual tersebut (potongan penjualan). Bila retur penjualan atau potongan penjualan menyangkut penjualan kredit, biasanya penjual menyampaikan nota kredit (Credit Memorandum) kepada pelanggan.
Retur penjualan pada hakikatnya merupakan pembatalan atas penjualan yang telah dilakukan perusahaan (baik sebagian ataupun seluruhnya). Pengaruh Retur ataupun potongan penjualan adalah berkurangnya pendapatan penjualan dan berkurangnya kas atau piutang dagang.
Bila perkiraan penjualan didebet, maka saldo perkiraan penjualan ini pada akhir periode akan menunjukkan penjualan bersih (net Sales), dan jumlah retur dan potongan penjualan tidak akan diungkapkan lagi. Karena berkurangnya pendapatan disebabkan oleh potongan penjualan, dan berbagai beban yang berkaitan dengan pengembalikan barang (angkutan, pengepakan, perbaikan, penjualan kembali dan sebagainya), disarankan agar jumlah transaksi seperti ini diketahui oleh manajemen.
Kebijakan semacam ini akan memungkinkan manajemen menentukan sebab-sebab retur dan potongan tersebut, seandainya jumlahnya sangat besar, dan untuk mengambil tindakan perbaikan. Kerena alasan inilah kita cendrung mendebet perkiraan yang disebut Retur dan potongan penjualan ( Sales Return and Allowances ). Bila penjualan semula dilakukan secara kredit, maka sisa transaksi tersebut dicatat sebagai kredit ke piutang dagang. Misalnya diterima pengembalian barang karena rusak dari salah seorang pelanggan senilai Rp 2.500,00 yang berasal dari transaksi penjualan kredit. maka pencatatn yang dilakukan untuk pengembalian barang tersebut adalah :
Retur dan Potongan Penjualan Rp 2.500,00
Piutang Dagang Rp 2.500,00
(untuk mencatat pengembalian barang dari seorang pembeli)
Jika uang tunai yang dikembalikan karena barang yang dikembalikan ataupun karena potongan harga, maka retur dan potongan penjualan didebet dan kas dikredit
Potongan Penjualan
Potongan penjualan merupakan nilai pengurang dari harga barang yang dijual dengan tujuan untuk memberikan daya tarik kepada konsumen guna membeli atau melunasi utangnya lebih cepat.
Jika penjualan dilakukan secara kredit, maka syarat pembayaran dimasa akan datang harus ditetapkan dengan jelas, sehingga kedua pihak mengetahui berapa jumlah yang harus dibayar dan kapan pembayaran dilakukan. Syarat penjualan biasanya dicantumkan dalam faktur penjualan dan merupakan bagian dari perjanjian penjualan. Syarat perjanjian disebut juga dengan termin yang biasa ditulis 2/10, n/30, artinya adalah akan diberikan potongan 2% jika pembayaran dilakukan 10 hari sesudah tanggal faktur, tapi tidak melewati 30 hari sejak tanggal faktur.
Syarat penjualan kadang kala juga ditulis dengan symbol n/30 (n adalah singkatan dari netto) yang artinya harga faktur neto atau keseluruhan harga faktur harus dibayar dalam waktu 30 hari sesudah tanggal faktur, cara lain menyatakan syarat penjualan adalah misal n,10/EOM (End of Month) atau akhir bulan. Ini berarti faktur harus dibayar dalam waktu 10 hari sesudah akhir bulan, dihitung dari bulan yang tertulis pada faktur.
Pada saat transaksi penjualan penjual belum mengetahui apakah pembeli akan memanfaatkan potongan atau tidak. Biasanya perusahaan mencatat penjualan sebesar harga faktur bruto.
Contoh :
Pada tanggal 10 oktober perusahaan merbabu menjual barang dagangan kepada seorang pembeli seharga Rp 10.000,00 secara kredit, dengan syarat 2/10,n/30. Jurnal untuk mencatat transaksi penjualan ini adalah :
10 oktober Piutang dagang Rp 10.000,00
Penjualan Rp 10.000,00
(Pencatatan penjualan barang dagangan dengan syarat 2/10,n/30)
Syarat penjualan diatas mempunyai arti bahwa perusahaan merbabu akan memberikan potongan 2% ( 2% x 10.000 = 200) jika pembeli melakukan pembayaran tidak melewati tanggal 20 oktober atau jika melewati tanggal 20 oktober tetapi tidak lebih dari tanggal 9 november.seandainya pembeli melakukan pembayaran pada tanggal 19 oktober (masih dalam periode potongan),maka jurnal untuk mencatat transaksi penerimaan piutang adalah sebagai berikut:
19 Oktober Kas Rp 9.800,00
Potongan penjualan Rp 200,00
Piutang Dagang Rp 10.000,00
(untuk mencatat penerimaan piutang dikurangi potongan 2%)
Seandainya pembeli melakukan pengembalian barang (retur) sebelum pembayaran dilakukan, maka potongan hanya dikenakan pada harga barang yang jadi dijual (tidak dikembalikan). Sebagai contoh seandainya konsumen yang melakukan pembelian pada tanggal 10 oktober seharga Rp 10.000,00 dengan syarat 2/10,n/30, pada tanggal 15 oktober mengembalikan barang yang rusak seharga Rp 2.000,00, maka harga faktur bruto atas barang yang jadi dibeli adalah Rp 8.000,00 (Rp 10.000,00 – Rp 2.000,00).
Dengan demikian potongan tunai harus dihitung atas dasar harga Rp 8.000,00. Misalkan pembeli melakukan pembayaran tanggal 19 oktober maka ia akan mendapat potongan sebesar Rp 160,00 (2% x Rp 8.000,00 = Rp 160,00). Jurnal yang dicatat adalah :
19 oktober Kas Rp 7.840,00
Potongan tunai penjualan Rp 160,00
Piutang dagang Rp 8.000,00
(untuk mencatat penerimaan piutang dengan potongan 2%)
Seandainya pembayaran piutang diterima tanggal 31 Oktober, maka perusahaan, maka pembeli tidak memanfaatkan potongan, maka ia harus membayar penuh sebeesar Rp 10.000,00. Jurnal yang dilakukan adalah :
31 oktober Kas Rp 10.000,00
Piutang Dagang Rp 10.000,00
(Untuk mencatat penerimaan piutang dagang)
Contoh penyajian rekening-rekening tersebut dalam laporan rugi laba adalah :
PT. MERBABU | |||
LAPORAN LABA RUGI (SEBAGAIAN) | |||
Penjualan | Rp 14.020.000,00 | ||
Kurangi: | Retur dan Potongan Penjualan | Rp 130.000,00 | |
Potongan Tunai Penjualan | Rp 240.000,00 | ||
Rp 370.000,00 | |||
Penjualan Bersih | Rp 13.650.000,00 | ||
Harga Pokok Penjualan
Harga pokok barang yang telah laku dijual biasa disebut juga Harga Pokok Penjualan (HPP). Untuk mendapat memahami cara menentukan harga pokok penjualan pada suatu periode, kita harus memahami dahulu pengertian persediaan dagangan dan harga pembelian bersih.
Harga pokok penjualan adalah nilai yang ditetapkan sebagai nilai jual suatu barang yang sudah diperhitungkan unsur persediaan, awal, pembelian bersih, biaya pembelian, barang tersedia untuk dijual, dan persediaan barang akhir dari barang yang sejenis. Harga Pokok Penjualan sering juga dikenal dengan istilah harga pokok barang yang dijual dan biaya pokok barang yang dijual.
Persediaan Barang Dagang (Inventory)
Persediaan barang dagangan adalah barang-barang yang disediakan untuk dijual kepada para konsumen selama periode normal kegiatan perusahaan. Persediaan yang dimiliki perusahaan pada awal periode akuntansi, disebut persediaan awal. Persediaan yang dimiliki oleh perusahaan pada akhir periode akuntansi disebut dengan persediaan akhir dan akan dilaporkan dalam neraca sebagai aktiva lancar yaitu pada rekening persediaan dan dipihak lain dicantumkan dalam laporan rugi-laba sebagai salah satu elemen yang akan berpengaruh pada penentuan laba bersih perusahaan.
Akun persediaan barang dagangan merupakan akun yang muncul karena adanya aktivitas penyimpanan barang. Persediaan barang yang dimaksud adalah nilai barang yang tersedia pada awa/akhir periode akuntansi. Akun yang digunakan untuk mencatat persediaan barang adalah Persediaan Barang (Merchandise Inventory). Jumlah barang tersedia pada akhir periode dapat ditentukan secara sederhana sebagai berikut:
Persediaan akhir = Pers Awal + (Pembelian+Beban Angkut=(Retur dan Potongan Pembelian) – (Penjualan – Retur dan Potongan Penjualan)
Ada dua system pencatatan persediaan yakni metode persediaan periodik dan metode persediaan perpetual.
· Metode Persediaan Periodik
Dalam metode periodik, adanya transaksi pembelian tidak didebet pada rekening persediaan tapi didebet pada rekening pembelian begitu juga dengan transaksi penjualan tidak dikredit pada reeking persediaan tapi pada rekening penjualan.
Informasi mengenai persediaan yang ada pada suatu saat tertentu, tidak didapat dari rekening persediaan tapi melalui perhitungan fisik atas persediaan yang ada digudang. Perhitungan fisik biasa dilakukan pada saat perusahaan akan menyusun laporan keuangan. Dalam metode ini perhitungan fisik mempunyai peranan penting, karena tanpa perhitungan fisik laporan keuangan tidak dapat disusun. Dalam pembahasan ini kita akan menggunakan metode pisik atau periodik.
· Metode Perpetual
Sistem pencatatan dengan metode ini dilakukan pada setiap terjadi perubahan atau mutasi persediaan barang dagangan. Dengan demikian jumlah persediaan barang dagangan dapat diketahui setiap saat. Oleh karena itu tidak perlu dilakukan penyesuaian pada akhir periode untuk menghitung jumlah persediaan barang dagangan.
Akuntansi untuk Pembelian Barang Dagangan
Pembelian
Akun pembelian muncul adalam pembelian barang dagangan, bukan pada pembelian lainnya, misalnya pembelian peralatan dan perlengkapan. Bila terjadi pembelian barang dagangan, maka akun yang terkait ddengan pembelian barang dagangan adalah purchase yang saldo normalnya debet.
Aktivitas pembelian barang dagangan bisa terjadi dalam dua transaksi yaitu secara tunai ataupun secara kredit. Jika pembelian dilakukan secara tunai, maka akun pembelian berpasangan dengan Kas, sedangkan bila pembelian yang bersangkutan dilakukan secara kredit, maka pembelian tersebut akan berpasangan dengan akun utang dagang, dan bila pembayran dalam bentuk wesel, maka akun yang bersangkungkutan akan berpasangan dengan akun utang wesel.
Apabila perusahaan menggunakan metode persediaan periodik, maka pembelian barang dagangan dicatat dengan mendebet rekening pembelian. Rekening pembelian merupakan sebuah rekening sementara yang digunakan untuk mengumpulkan seluruh harga pokok barang yang dibeli selama periode, sehingga pada tiap akhir periode rekening ini harus ditutup.
Misalkan pada tanggal 3 Januari,sebuah perusahaan yang menggunakan metoda periodik, membeli barang dagangan secara kredit seharga Rp 50.000,00. Transaksi ini dicatat :
3 Januari Pembelian Rp 50.000,00
utang Dagang Rp 50.000,00
(untuk mencatat pembelian barang dagangan dengan termin (2/10,n/30)
Rekening pembelian hanya digunakan untuk mencatat pembelian barang dagangan, apabila perusahaan membeli barang yang digunakan untuk keperluan sendiri misalnya membeli lemari untuk dipakai sendiri, maka yang didebet adalah rekening aktiva yang bersangkutan.
Potongan Pembelian
Akun yang berkaitan dengan ptongan pembelian adalah potongan pembelian dan akun ini merupakan akun yang berlawanan dengan akun pembelian, sehingga saldo normal potongan pembelian ada di sebelah kredit.
Retur dan Pengurangan Harga
Seperti halnya transaksi penjualan, dalam transaksi pembelian terdapat juga retur pembelian. Apabila barang yang dibeli dari pemasok ternyata rusak atau tidak memuaskan, maka biasa pembeli mengembalikan barang tersebut dan utang kepada pemasok menjadi berkurang. Kemungkinan lain adalah barang tersebut tidak dikembalikan oleh pembeli tapi ia meminta potongan harga. Untuk mencatat kejadian ini biasanya digunakan rekening Retur dan Pengurangan Harga.
Misal Pada tanggal 9 Januari dikembalikan kepada pemasok karena barang rusak sebesar Rp 5.000,00 yang dibeli pada tanggal 3 Januari. Maka jurnalnya adalah :
3 Januari Utang Dagang Rp 5.000,00
Retur dan Pengurangan Harga Rp 5.000,00
(untuk mencatat pengembalian barang )
Transaksi retur pembelian sebenarnya dapat dicatat dengan mengkredit rekening pembelian. Namun banyak perusahaan menyukai rekening retur dan potongan pembelian, karena dari rekening ini dapat diketahui jumlah retur pembelian yang terjadi selama periode.
Rekening retur dan pengurangan harga merupakan rekening lawan terhadap rekening pembelian. Saldo rekening retur dan pengurangan harga harus dikurangkan terhadap jumlah pembelian kotor, sehingga dapat diketuhi pembeelian bersih.
Potongan Tunai Pembelian
Apabila barang dagangan dibeli secara kredit maka syarat pembayarannya ditulis pada faktur peembelian. Pemasok biasanya memberikan potongan kepada pembeli yang membayar dalam waktu yang telah ditentukan. Jika penjual memberikan potongan tunai, maka potongan tersebut oleh pembeli dinamakan potongan tunai pembelian.
Sehubungan dengan contoh sebelumnya yaitu pada tanggal 33 Januari perusahaan membeli barang dagangan secara kredit (2/10, n/30) seharga Rp 50.000,00 Kemudian tanggal 9 Januari dikembalikan barang sebesar Rp 5.000,00 yang dibeli pada tanggal 3 Januari. Seandainya saldo sebesar Rp 45.000,00 (Rp 50.000,00-Rp5.000,00) dibayar pada tanggal 11 Januari (belum melewati 10 hari sejak tanggal faktur). Maka jurnalnya adalah :
11 Januari Utang dagang Rp 45.000
Potongan pembelian Rp 900,00
Kas Rp 44.100,00
(Jurnal untuk mencatat saat pembayaran atas pembelian barang tanggal 3 Januari, dengan potongan 2%)
Potongan Rabat
Biasanya pembelian dalam jumlah yang besar bisanya mendapat potongan khusus dari harga resmi yang tercantum. Potongan semacam ini disebut RABAT. Rabat tidak sama dengan potongan tunai. Potongan tunai adalah potongan yang diterima karena perusahaan membayar dalam waktu yang telah ditentukan dalam syarat pembelian, sedangkan rabat adalah potongan yang diterima berupa pengurang harga dari harga resmi.
Rabat biasanya ditentukan dalam tarif. Misalnya Barang dengan harga menurut daftar sebesar Rp100.000 dijual dengan rabat 30% . Harga jual sesungguhnya menjadi Rp 70.000 ( 100.000- (30% x Rp 100.000). Rabat tidak dicatat dalam pembukuan, baik dalam pembukuan pembeli maupun penjual.
Biaya Angkut Pembelian
Munculnya beban angkut pembelian dikarenakan syarat penyerahan barang menggunakan syarat FOB shipping point. Syarat ini adalah syarat penyerahan brang yang menentukan pembeli bertanggung jawab terhadap pengangkutan barang yang dibelinya semenjak keluar dari gedung penjual. Akun yang berkaitan dengan beban angkut pembelian adalah beban angkut pembelian.
Bila beban angkut pembelian dibayar terpisah secara tunai, maka akun ini akan berpasangan dengan akun kas, namun bila beban angkut pembelian ini diperhitungkan dalam pembelian barang dagangan secara kredit, maka akan dipasangkan di antara akun pembelian dan utang dagang.
Perjanjian antara penjual dan pembeli mencakup ketentuan mengenai pihak manakah yang harus menanggung biaya angkut barang ke gudang pembeli. Bila pembeli yang menanggung biaya tersebut, ketentuan ini disebut franco gudang penjual (FOB Shipping point), bila biaya angkut ditanggung oleh penjual, ketentuan ini disebut franco gudang pembeli (FOB Destination).
· Biaya Angkut bagi Pembeli
Bila barang dibeli dengan syarat franco gudang penjual, maka biaya angkut yang telah dibayar oleh pembeli hendaknya didebet ke perkiraan Pembelian dan dikredit ke rekening Kas. Beberapa perusahaan menggunakan perkiraan yang diberi judul Angkos Angkut. Saldo perkiraan ini ditambahkan ke saldo perkiraan pembelian untuk menetapkan jumlah harga pokok barang yang dibeli.
Dalam bebrapa hal, penjual mungkin membayar dimuka biaya angkut dan menambahkannya ke Faktur, walaupun dalam perjanjiannya dinyatakan bahwa pembeli yang menanggung biaya angkut tersebut (franco gudang penjual). Bila penjual membayar lebih dulu biaya angkut, pembeli akan memasukkan biaya itu dalam debet pembelian dan kredit hutang dagang.
Misalnya tanggal 15 Januari Amazon Co. membeli barang dari Bill Co. secara kredit seharga Rp 5.000.000 dengan syarat franco gudang penjual, (2/10,n/30) ditambah biaya angkut yang telah dibayar lebih dahulu oleh penjual sebesar Rp50.000yang ditambahkan ke faktur. Ayat jurnalnya adalah :
15 Januari Pembelian Rp 5.050.000
Hutang dagang Rp 5.050.000
(mencatat pembelian barang dagangan dengan franco gudang pembeli)
Bila dalam perjanjian dicantumkan adanya potongan harga untuk pelunasan lebih awal, maka potongan itu dihitung dari jumlah penjualan dan bukan dari total jumlah dalam faktur.
Misalkan Amazon Co. membayar hutang tanggal 20 Januari , maka perhitungannya adalah :
Faktur dari Bill termasuk biaya angkut Rp 50.000 yang telah dibayar lebih dulu oleh penjual Rp 5.050.000
Dasar menghitung potongan Rp 5.000.000
Tarif potong 2%
Jumlah potongan (5.000.000 x 2%) Rp 100.000
Jumlah pembayaran Rp 4.950.000
Amazon akan menjurnal :
20 Januari Hutang dagang Rp 5.050.000
Kas Rp 4.950.000
Potongan pembelian Rp 100.000
· Biaya Angkut bagi penjual
Bila dalam perjanjian dinyatakan bahwa penjual menanggung biaya angkut (franco gudang pembeli), maka biaya angkut yang dibayar oleh penjual didebet ke perkiraan Biaya transport. Total biaya ini dilaporkan dalam perhitungan rugi laba sebagai biayapenjualan.
Persediaan Akhir
Pada akhir periode akuntansi, perusahaan yang menggunakan metoda periodic harus melakukan perhitungan atas jumlah fisik persediaan yang belum terjual. Jumlah fisik persediaan ini kemudian dikalikan dengan harga pokok yang sesuai, sehingga dapat ditentukan harga pokok persediaan akhir periode.
Seperti terlihat dalam laporan rugi-laba,terdapat hubungan-hubungan sebagai berikut:
· Harga pokok barang yang tersedia dijual = persediaan awal + harga pokok Pembelian
· Harga pokok penjualan = harga barang yang tersedia dijual – harga pokok persediaanakhir
· Laba kotor penjualan = penjualan bersih – harga pokok penjualan
Rekening-Rekening dalam Perusahaan dagang:
· Penjualan
· Retur dan potongan penjualan
· Potongan tunai penjualan
· Pembelian
· Retur dan potongan pembelian
· Potongan tunai pembelian
· Biaya angkut pembelian
· Persediaan barang dagangan
Akuntansi Perusahaan Dagang
Reviewed by Arfan Amrin
on
September 26, 2013
Rating:
No comments: